|
Terinspirasi oleh cerita perjalanan Om Herry (HSX 002) di blog miliknya, akhirnya diputuskan 'tuk mencoba menjejaki lagi jejak-jejak ban Si biru Vario tunggangan Om Her… Tadinya mo berangkat lewat utara dan pulang lewat selatan. tp mengingat panas yang menyengat kl lewat utara.. maka diputuskan untuk pergi-pulang lewat jalur selatan : Bogor-Cikidang-Pelabuhan-Ratu-Cisolok-Bayah-Cihara-Binuangen-Malingping-Cikeusik -Cibaliung-Cimanggu-Sumur.
Sabtu itu Bogor begitu cerahnya menyambut pagi. Keberangkatan dimulai pukul 10 pagi.. km dimulai dari nol.. indikator bensin menunjukan masih 3 bar. Bogor makin padat saja di saat weekend. Selepas tajur menuju sukabumi... kondisi jalan sudah mulai macet akibat jalanan yang bener2 rusak kl nga mo dibilang hancur.. bener kata om her.. "Lebih baik dari Bogor ambil jalan pintas lewat Batutulis..." isi bensin di Cikereteg 10 rb (2.25 lt), km 18. Memasuki trek cikidang baru perjalanan terasa nikmat dengan kecepatan 60-90 km/jam.. namun dibeberapa ruas..jalanan mulai tidak mulus (gradak) akibat lapisan atas aspal yg mulai tergerus air.
Sekitar jam 12 siang berhenti di Citarik buat makan siang sambil memandangi orang-orang yang sedang persiapan buat rafting... pukul 12.30 perjalanan dilanjutkan.. berhenti untuk isi bensin di Pom Pelabuhan ratu sebanyak 6 rb (1,33 lt), KM menunjukkan angka 86. Kota Pelabuhan Ratu dilewati begitu saja namun tergoda sejenak berhenti di Pantai Pelabuhan Ratu untuk menikmati segarnya air kelapa muda. Segarr!!!.
Perjalanan dilanjutkan, dan dari Cisolok hingga Bayah akan menjumpai daerah pegunungan dengan pemandangan laut yang menakjubkan.. treknya juga sungguh menantang dari kelokan tajam hingga tanjakan/turunan di pegunungan yang bisa dibilang cukup menguji nyali... Berhenti sejenak di Pom Bensin Bayah buat minum premium 1,33 lt, km 148, jam 2.48 sore.  Pantai Pelabuhan Ratu dilihat dari ketinggian Sedangkan dari Bayah hingga Binuangen... akan disuguhi oleh birunya pantai selatan di sisi kiri dan dan kuningnya sawah bersusun yang terhampar di perbukitan di sisi kanan jalan yang selalu menggoda mata anda untuk menikmatinya. Memasuki Binuangen jam 3.30 sore, isi bensin lagi 5000 perak, km menunjukan angka 197.
 Pemandangan pantai di daerah Cihara
Menyempatkan untuk menepi di Pantai Bagedur, suatu pantai khas Pantai Selatan dengan ombak putih bergulung.. namun masih bersih dan begitu alami hingga terasa begitu indah berada di Pantai ini. Pantai Bagedur belum dikelola secara komersial, namun di sini terdapat suatu Cottage yang cukup representatif untuk bermalam.
 Pantai Bagedur masih alami... bersih..
Sementara dari Binuangen-Cikeusik-Cibaliung-Cimanggu-Sumur disuguhi oleh suasana pedesaaan dengan para petani yang sibuk menjemur padi di jalanan di depan rumah... diselinggi oleh persawahan hutan-hutan tropis yang menyejukkan... khusus di daerah Cibaliung.. jalanan mulai rusak sehingga kecepatan hanya bisa 20-60 km/jam.
Sampai jugadi Sumur jam 5 sore, KM menunjukkan angka 256, lama perjalanan sekitar 7 jam dengan menghabiskan bensin sebanyak 5,7 Lt.
Catatan: Dari Pelabuhan Ratu hingga Sumur… bensin tercukupi dengan selalu mengisi bensin di Pom Bensin yang dilalui sehingga tidak perlu membeli bensin eceran yang banyak dijual di jalan. Bermalam di Hotel Rhino, suatu hotel yang terdiri dari kompleks dengan nuansa rumah-rumah adat yang dikelilingi oleh rimbunya pepohonan sehingga benar2 menghasilkan suasana yg begitu alami.
 Hotel Rhino (Rumah adat Jambi)
Selesai mandi.. langsung coba menikmati susasanan kota Kecamatan Sumur yang merupakan kota terakhir sebelum memasuki kawasan Ujung Kulon...
Kota ini begitu sederhana.. toko-toko hanya buka di pagi hingga petang.. sedangkan cafetaria buka hingga jam 8 malam .
Di kala senja, kita bisa menikmati suasana sunset dari dermaga yang biasa digunakan untuk menyeberang ke Pulau Umang. Di dermaga ini banyak penduduk sekitar yang memancing.. terkadang menemani membantu para wisatawan dari P. Umang.
 Pantai sumur di kala senja
 Semburat senja menemani anak-anak memancing
Suasana Minggu pagi diwarnai oleh Krakatau yang nampak lebih jelas dan pulangnya para pemancing yang membawa pulang ikan hasil tangkapannya.. baik untuk dijual maupun dikonsumsi sendiri.  Gunung Krakatau di kejauhan
 Pulang ke rumah membawa ikan hasil memancing
Minggu pagi, tepat pukul 9.15 perjalanan pulang dimulai. Rute yang ditempuh sama seperti berangkat.. hanya berbeda dengan berbelok lewat jalur alternatif Batutulis. Tiba di Bogor jam 6 sore. Waktu yang ditempuh lebih lama dari pada pas berangkat karena sepanjang perjalanan pulang banyak berhenti buat menikmati pemandangan.. bahkan sempat beristirahat sekitar 1 jam di daerah Cihara..di sebuah tempat peristirahatan di tengah sawah sambil memandangi birunya pantai selatan sambil bercengkerama bersama sepasang bapak-ibu tua yang banyak memberikan pandangan mengenai hidup.. (hatur nuhun sanget to Ibu Tati dan sang Suami..).
JF
|